Pages

19 Agt 2011

JANGAN PERNAH MENYERAH


“Yo ca upapatitam atthi, Kippameva nabujjhati, Amittavasamanveti, 
Pacchava anutappati” 
Orang yang tidak mampu membaca permasalahan yang terjadi dengan cekatan niscaya akan terperangkap dalam kekuasaan musuh, 
dan akan menyesal dikemudian hari. 
(KHUDDAKA NIKAYA, JATAKA I;143)

    Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita perhatikan seekor burung. Setiap pagi, burung keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya, kemana dan dimana, dia harus mencari makanan yang diperlukan. Adakalanya, dia pulang dengan perut kenyang dan membawa makanan buat keluarganya. Tetapi adakalanya, makanan itu hanya cukup buat keluarganya, sementara dia harus puasa. Bahkan sering kali, dia pulang tanpa memabawa apa – apa buat keluarganya sehingga dia dan keluarganya, harus berpuasa.
   Meskipun Burung lebih sering, mengalami kekurangan makanan karena tidak tidak punya kantor yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas “kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri”. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba – tiba menukik, membenturkan kepalanya kebatu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba – tiba menenggelamkan diri kedalam sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaanya.
“Yang kita lihat burung tetap optimis, dalam menjalani hidupnya”. Walaupun kelaparan, tiap pagi dia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya, burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas kebawah. Suatu waktu berkelebihan dan dilain waktu kekurangan. Sewaktu – waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan. Sekarang, marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung yaitu “Cacing”.
   Kalau kita perhatikan, binatang ini, seoalah – olah tidak mempunyai saranan yang layak untuk survive untuk bertahan hidup. Dia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin dia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi, dia adalah maklhuk hidup juga dan sama dengan maklhuk hidup lainnya, dia mempunyai perut yang apabila tidk diisi maka dia akan mati.
   Dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan, cacing yang membentur – benturkan kepalanya ke bebatuaan. Sekarang kita lihat diri kita…???? Kalau kita bandingkan dengan “Burung & Cacing” maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah, jauh lebih canggih. Tetapi kenapa manusia yang dibekali dengan banyak kelebihan ini, sering kali kalah dari “Burung atau Cacing”???
Mengapa, banyak manusia yang mudah putus asa, lalu berpikir dangkal sehingga melakukan tindakan – tindakan yang tidak tepat dengan cara mengakhiri hidupnya/ bunuh diri, (Baygon pun sudah rasa orange, lompat tinggi sekarang ga tanggung2 loh - lompat dari ats gedung San Plaza). Dalam menghadapi permasalah dan kesulitan seperti itu…??? Padahal rasa – rasanya belum pernah kita melihat, burung dan cacing yang bunuh diri karena putus asa. Rupa – rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.
    
    Hidup yang indah ini, haruslah diperjuangkan dengan semangat (Viriya) pantang menyerah agar gerbang kesuksesan dan kebahagiaan (Sukkha) kita raih Semua tantangan dan rintangan adalah media atau sarana yang sangat efektif untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan hidup.Winston Churchill mengatakan bahwa “Succses is the ability, to go from one failure, to another, with no loss of enthusiasm – kesuksesan adalah kemampuan untuk berpindah dari suatu kegagalan ke kegagalan lain tanpa kehilangan antusiasmu”
    Jadi, apapun yang terjadi, hadapilah semuanya dengan senyuman dan semangat yang pantang menyerah. Lari dari kenyataan atau realita hidup, bukan saja bebas dari penderitaan (dukkha) tetapi juga akan menimbulkan permasalahan yang baru. Realitanya, easy came – easy go : semakin mudah diraih, akan semakin mudah terlupakan. Jika segala sesuatunya dapat diraih dengan perjuangan yang pantang menyerah maka rasa puas dan kebahagian akan bisa dirasakan. Ini adalah awal dari kesuksesan.

“Kammam vijja ca – Dhammo ca – Silam jivittamuttamam – Etena macca sujjhanti – Na gottena dhanena va” orang tersucikan bukanlah karena kelahiran (keturunan) atau mempunyai harta benda yang melimpah, malainkan… pengetahuan dhamma, kesilaan/ moralitas, penghidupan yang luhur/ bekerja dengan baik. SAMYUTA NIKAYA, SAGATHAVAGA 147


Sabbe Satta Sabba Dukkha Pamuccantu
Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitata
Semoga semua maklhuk terbebas dari penderitaan
Dan semoga semua maklhuk senantiasa berbahagia
Happy Moment Happy in Dhamma
Sadhu….Sadhu….Sadhu…

By Bhante Khemanando 
Happy Moment Happy in Dhamma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar