Pages

19 Agt 2011

Perlukah Pattidana


Na Pupphagadho Pativãtameti
Na Candanaṁ Tagaramallikã Vã
Satañ Cã Gandho Pativãtameti
Sabbã Disã sappuriso Pavãti
“Harumnya Bunga tak dapat melawan arah angin, begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara & melati. Tetapi harumnya sebuah kebajikan akan dapat melawan arah angin, harumnya nama orang yg gemar melakukan kebajikan akan dapat menyebar kesegenap penjuru” (Puppha Vagga syair ; 54)

     Segala sesuatu yg berkondisi tentu pada awalnya mempunyai suatu sebab dan akibat, tak terkecuali dengan kita. Semua makhluk yg terlahir didunia ini pada dasarnya pastilah ada hubungan dan ada kaitannya dengan makhluk lain, kita bisa lahir dan ada didalam dunia ini tentu semuanya karena adanya jasa orang tua, leluhur dan sanak saudara kita. Tanpa ada mereka mungkin kita tidak akan pernah bisa berada didalam dunia ini. tanpa mereka kita tidaka apa - apa, tanpa mereka kita bukan siapa - siapa.
   Orang tua ibarat Buddha, Deva, Brahma dan guru pertama bagi anak-anaknya. Orang tua disebut Buddha, Deva atau Brahma karena mereka meneladani ketidak terbatasannya ddialam hal cinta kasih dan kasih sayang terhadap anak - anaknya. Jadi mereka merupakan salah satu makhluk yg mulia yg mempunyai “Jasa Besar” didalam kehidupan kita saat ini. Karena ada didikan dan bimbingan merekalah akhirnya kita bisa merasakan hidup yg indah saat ini.
  
  • Pattidana (Pelimpahan Jasa)
     Di dalam Buddhasasana, sebagian umat yg telah menyakini keberadaan Tiratana mungkin sudah mengetahui apa maksud dan tujuan dari Pattidana, tetapi sebagian besar juga masih tabu, masih banyak yg belum memahami arti dari Pattidana yg sesungguhnya.

Pelimpahan jasa yaitu suatu tindakan atau ungkapan sebagaimana salah satu bentuk wujud dari rasa bakti dan hormat kita ( Katannukatavedi ) kepada orang – orang yg telah meninggal, yg mempunyai hubungan dengan kita, orang - orang yang telah berjasa dalam hidup kita.

     Didalam Manggala Sutta telah dijelaskan (Pujã ca Pujaniyanaṁ Etaṁ Mangalamuttamaṁ _ Menghormat kepada yg patut yg dihormati adalah berkah utama) didalam salah satu Tipitaka juga ada diceritakan ketika Sang Buddha melakukan perjalanan dan sewaktu ditengah perjalanan beliau berhenti sejenak melihat setumpukan tengkorang manusia, setelah itu Sang buddha Benamaskara didepan tumpukan tulang tersebut.

    Pattidana adalah suatu tindakan atau ungkapan rasa bakti dan hormat kepada orang tua, para leluhur dan kepada sanaksaudara yang telah meninggal dunia. Mengapa Pattidana dilakukan…??? Pattidana  dilakukan karena dengan harapan agar orang yang telah meninggal tersebut mengetahui serta merasakan perbuatan baik yang telah kita lakukan dan dengan tujuan agar mereka ikut berbahagia (ber_muditacitta) atas perbuatan kebajikan yang sudah kita lakukan sehingga dg cara demikian kita akan membantu memberikan sebuah kondisi yg baik, kondisi yg membahagiakan didalam diri mereka.
    Sebelum seseorang melakukan pelimpahan jasa, seyogiyannya terlebih dahulu seseorang harus melakukan suatu tindakan/perbuatan kebajikan, barulah kemudian dari tindakan kebajikan itu dilimpahkan dikabarkan kepada mereka. Pattidana sendiri hanya bisa diterima bagi mereka yg masih terlahir dialam Paradattupajivika Peta.

Dalam hal ini mungkin banyak yg berasumsi dan beranggapan, bukannya setiap makhluk  itu memiliki, mewarisi, terlahir, terlindung dan berhubungan dengan kammanya sendiri…??? 
Jadi untuk apa melakukan Pattidana…???

   Melakukan Pattidana sebenarnya tidak ada ruginya, justru malah sebaliknya melakukan Pattidana akan menambah nilai pahala dari kebajikan yg telah kita lakukan. Proses pelimpahan penyaluran yg kita lakukan kepada mereka sama halnya dengan :
“Ketika kita mempunyai sebuah lilin kemudian lilin tersebut kita nyalakan dan setelah itu kita sulutkan lilin tersebut ke lilin yg lain, apakah cahaya penerangan lilin tadi berkurang? Tidak berkurang bukan??? Justru lilin tersebut bertambah memberikan keuntungan yg sangat besar buat lilin yg lainnya.

Jadi maksud Pattidana ini sama halnya dg sebuah nyala api lilin yg tak akan pernah berkurang cayahayanya meskipun sudah dibagi kelilin – lilin yg lainnya, demikian juga dg kebajikan yg telah kita lakukan kemudian kita llimpahkan kepada mereka, kebajikan itu sebenarnya masih tetap, tidak berkurang justru semakin bertambah.

      Karena apa??? Pengertiannya adalah kita hanyalah mengabarkan, menyampaikan, dan berbagi kebahagiaan, supaya meraka juga ikut turut merasakan kebahagiaan seperti apa yg kita rasakan, dan supaya mereka turut bermuditacitta dg tindakan baik kita, sehingga ketika mereka dalam kondisi berbahagia akan sangat membantu memicu semua kebajikan – kebajikan yg pernah mereka lakukan selama hidupnya di dunia. supaya dengan begitu mereka akan dapat terlahir kembali di alam-alam yg lebih baik.

Dalam hal ini bisa diperumpamakan dengan sebuah contoh :
Ketika seorang anak yang pergi menuntut ilmu dikota lain/ luar negri memberitakan  kabar kelulusannya kepada orangtuanya di kota kelahirannya. Mendengar kabar gembira ini, ayah dan ibunya tentunya akan merasakan kebahagiaan. Padahal apabila direnungkan, si anak yang lulus tetapi mengapa orang tuanya juga merasakan kebahagiaan? Inilah yang disebut pikiran ikut berbahagia (mudita citta) atau ikut bergembira atas kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Mudita citta adalah termasuk melakukan salah satu karma baik lewat pikiran. Oleh karena itu, kondisi demikian inilah yang dimunculkan oleh seorang umat Buddha apabila melimpahkan jasa kebaikan yang dilakukannya.

     Pattidana dilakukan sebenarnya bukan hanya pada saat ini atau diera Modren saja melainkan di zaman kehidupan Sang Buddha Gotama, Pattidana memang sudah dilakukan oleh siswa sang Buddha sejak dulu. Salah satunya adalah seorang Raja Besar di negri Magadha yaitu Raja Bimbisara, yang melakukan pelimpahan jasa ketika para sanak saudarannya yg telah meninggal meminta pertolongan dan bantuan. kemudian Raja Bimbisara menanyakan peristiwa yg dialaminya dan Sang Buddha pun menyarankan agar Raja Bimbisara melakukan kebajikan dan kemudian dilimpahkan. Sinngkat cerita, Sesudah mendengar dhamma dri Sang Bhagava Raja Bimbisara menjadi tenang, menjadi puas akan nasehat yg telah diajarkan.

Nah sekarang menurut Anda Pattidana perlu dilakuakan atau tidak semuanya kembali kepada saudara/I sekalian.



”Seperti air mengalir dari tempat yang
tinggi ke tempat yang rendah, demikian pula
hendaknya jasa yang dipersembahkan (oleh
kerabat dan keluarga) di alam manusia ini
dapat ikut dinikmati oleh para arwah (peta).
Seperti air dari sungai besar mengalir mengisi
lautan, demikian pula dengan jasa-jasa ini
dapat ikut dinikmati oleh para peta”
                                                                       
 (Tirokudda Sutta, Khuddakapatha).
By. Bhante Aggacitto
Happy Moment Happy in Dhamma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar